Kamis, 09 Mei 2013

PERSAINGAN PERDAGANGAN INDONESIA & CHINA (Tema 2)



PERSAINGAN PERDAGANGAN INDONESIA & CHINA

ABSTRAK
Mahalnya biaya transportasi dan ongkos produksi di Indonesia, membuat harga suatu produk tidak kompetitif dipasar lokal apalagi pada pasar Internasional, hasil Industri made in  Indonesia saat ini nyaris hanya bisa bertahan pada pasar dalam negeri, dan itupun sudah mulai tertekan  karena desakan barang yang sama dari China, harganya pun jauh lebih murah, walaupun mutunya sulit untuk dipercaya.
Faktor harga murah merupakan strategy China untuk merebut pangsa pasar besar di Indonesia,  dan bukan mustahil industri-industri kecil hingga industri skala besar akan gulung tikar dalam bebarapa bulan kedepan oleh karena hancurnya pasar lokal yang diserbu produk import dari China, dan ini memang rencana besar pemerintahan China, agar Indonesia menggantungkan sepenuhnya kebutuhan domestiknya terhadap Industri China.
Ketidak mampuan Industri Indonesia untuk bersaing dengan melakukan pengurangan ongkos produksi dan distribusi menjadi salah satu  penyebab nilai jual produk dalam negeri mahal, hancurnya sarana infrastruktur antar pulau dan  banyak yang sudah masuk dalam kategori  rusak berat, seperti penuturan pengusaha angkutan darat, membuat harga barang lokal mahal,  ditambah lagi  produk yang dihasilkan memakai bahan baku import, seperti produk tekstil maupun electronic yang kesemua bahan baku utamanya ( kapas, semicoductor) harus di import dari luar negeri.
Ironisnya kejadian ini terjadi setiap tahun dan belum ada tanda-tanda perbaikan,   lonjakan harga produk local  yang tidak masuk akal,  sering terjadi kelangkaan bahan baku,  dan akhirnya  produk yang dihasilkan didalam negeri tidak akan  mampu untuk bersaing dengan produk yang dihasilkan dari  Vietnam, maupun China.
Dalam semester pertama  tahun ini, Indonesia sangat kesulitan untuk mendapatkan bahan baku kapas bagi keperluan Industri tekstil dalam negeri, kapas yang dihasilkan oleh beberapa negara seperti, Amerika serikat, India, Pakistan dan sebagian Negara Amerika Latin, telah habis diborong oleh Importir dari China tahun lalu, lewat perdagangan berjangka atau yang lebih dikenal dengan istilah future trading, imbasnya  produsen tekstil ditanah air kalang kabut dan harus mengikuti fluktuatif kenaikan harga yang ditetapkan oleh Eksportir China hingga mencapai 50% dari harga dasar dipasar Internasional.
Lonjakan harga tersebut berimbas pada penghentian kegiatan produksi garment maupun Industri rumahan di dalam negeri, kenaikan harga bahan baku tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual produk sehingga konsumer tidak melakukan pembelian produk secara rutin akhirnya stock menumpuk dan tidak ada kepastian kapan produk tersebut akan diserap oleh pasar.
Importir dari kelas menengah timur tengah maupun eropa timur sudah 6 bulan lebih tidak pernah datang untuk melirik produk garment Indonesia, dapat dibayangkan berapa banyak devisa yang hilang akibat kenaikan harga kapas yang sengaja dilakukan oleh pengusaha China tersebut, jika dulu industri garment kita merupakan andalan utama pemasukan devisa, kini mereka beralih menjadi importir untuk memasukkan barang yang sejenis dari China, imbasnya adalah pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja dilingkungan pabrik mereka seperti yang terjadi di Jawa barat, Jawa tengah maupun pusat sentra Industri di Tanah Air.
Adakah jalan lain yang dapat ditempuh untuk menghidupkan kembali kejayaan Industri di Tanah Air? untuk jangka pendek sepertinya kita tidak punya harapan, namun bilamana pengembangan Industri pertanian Kapas dikembangkan di Nusa Tenggara maupun daerah lainnya, Industri tekstil kita bisa bangkit kembali asalkan pemerintah memberikan dukungan penuh seperti yang dilakukan untuk industri kelapa sawit, dimana saat ini hanya produk ini yang masih bertahan dipasar internasional, karena saingan kita hanya Malaysia saja.

BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China semula memang potensial membawa kemajuan bagi perekonomian Indonesia. Akan tetapi, dengan catatan, sejak ditekennya perjanjian hingga menjelang diberlakukannya ACFTA, pemerintah bersungguh-sungguh mempersiapkan daya saing dan kinerja perekonomian dalam negeri agar siap tempur di ajang perdagangan bebas tersebut.
            Namun faktanya, seperti disinggung di atas, yang terjadi di dalam negeri justru deindustrialisasi, melemahnya daya saing produk pertanian, dan kian termarjinalisasinya UMKM. Dengan kata lain, persiapan kita sangat minim.
 Banyak faktor yang ikut berperan di sini. Antara lain, diabaikannya sektor riil dibanding sektor finansial, tak kunjung dibenahinya infrastruktur, reformasi birokrasi yang tak serius yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi tetap menggejala, gagalnya revitalisasi pertanian, dan kurangnya komitmen pemerintah melakukan politik afirmasi bagi UMKM.
 Lebih dari itu, barang-barang produksi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, dan China relatif sejenis. Yakni, masih sama-sama mengandalkan produksi sektor pertanian dan industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki. Dalam kondisi ini, bisa dipastikan jika kran pasar bebas dibuka, yang bertahan ialah negara yang sanggup memproduksi barang dengan cara paling efisien alias murah meriah, dengan kualitas setara bahkan lebih baik. Posisi inilah yang dimiliki China, yang bisa menekan ongkos produksi serendah mungkin lantaran berbagai biaya faktor produksi mereka yang lebih murah.
 China bisa merebut posisi unggulan ini lantaran penguasaan mereka atas teknologi produksi kimia dasar, sehingga bisa tiap saat memasok bahan baku industri manufakturnya dengan harga murah, tanpa tergantung impor. Negeri Tirai Bambu ini juga sangat serius mereformasi birokrasi guna memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), bahkan dengan menghukum mati para koruptornya.
Jadi, bukan lagi rendahnya upah buruh di China yang menjadi alasan murahnya produk mereka sehingga memenangkan persaingan. Sebab, upah rata-rata tenaga kerja di Vietnam sekarang ini pun lebih mahal daripada upah buruh Indonesia, toh daya saing produk Vietnam mulai mengalahkan produk Indonesia.

B.RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana persaingan perdagangan bebas Indonesia dengan China?
2.    Jenis-Jenis produk dalam negeri ?
3.    Bagaimana bersaing di pasar luar negeri?


BAB II
LANDASAN TEORI

Bagi Negara Republik Indonesia, perdagangan bebas dengan China ini memberikan dampak positif dan negatif terhadap perekonomian. Dampak positifnya adalah terbukanya peluang Indonesia untuk meningkatkan perekonomiannya melalui pemanfaatan peluang pasar yang ada, dimana produk-produk dari Indonesia dapat dipasarkan secara lebih luas ke negara-negara ASEAN dan China. China yang memiliki wilayah yang luas, jumlah penduduk yang banyak, serta pertumbuhan ekonomi yang pesat menjadi pasar yang potensial untuk mengekspor produk-produk unggulan dari Indonesia ke negara tersebut. Dengan mengalirnya produk-produk Indonesia ke negara luar, maka kegiatan industri di Indonesia menjadi meningkat, sehingga dapat meningkatkan pendapatan negara Indonesia.
     Sebaliknya, perekonomian China yang begitu kuat terfokus pada ekspor menjadi tantangan bagi Indonesia. Ditambah lagi Pemerintah China yang mendukung penuh perdagangan masyarakatnya telah mampu untuk menghasilkan produk yang berkualitas, produk yang bervariasi, teknologi yang maju serta harga yang relatif murah, Dengan demikian produk-produk dari China tersebut akan mendominasi pasar di Indonesia. Begitu pula produk Indonesia yang sama dengan produk dari China, namun Indonesia masih kalah bersaing di beberapa produk tersebut. Walaupun begitu Indonesia masih unggul dalam produk komponen otomotif, garmen, furniture, dan perlengkapan rumah tangga. Walaupun memiliki unggulan produk, namun hal tersebut akan menjadikan sebuah tantangan yang berat bagi Indonesia karena harus bersaing dengan produk lain yang lebih murah dan berkualitas.

BAB III
PEMBAHASAN

 A.Persaingan Perdagangan Bebas Indonesia dan China
      Dalam perdagangan bebas antara Indonesia dengan China ini, masyarakat memandang ACFTA sebagai ancaman, karena berpotensi membangkrutkan banyak perusahaan dalam negeri. Perusahaan yang diperkirakan akan mengalami kebangkrutan tersebut adalah tekstil, mainan anak-anak, furniture, keramik dan elektronik. Bangkrutnya perusahan tersebut disebabkan karena ketidaksiapan para pelaku bisnis Indonesia, terutama bisnis menengah dan kecil dalam bersaing.
      Sementara itu, dengan diberlakukannya ACFTA, maka China yang akan memperoleh keuntungan dari ketersediaan sumber daya alam dan energi Indonesia. Negara China akan memanfaatkan sumber daya alam dan energi Indonesia itu untuk menggerakkan industri mereka dengan biaya yang murah dan hasilnya kemudian dipasarkan kembali ke Indonesia.
Masuknya produk China ke Indonesia tidak hanya berdampak terhadap produk Indonesia, akan tetapi juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Beberapa produk China yang masuk ke Indonesia mengandung racun dan zat yang berbahaya bagi kesehatan, seperti timbal yang terdapat pada mainan anak-anak. Lalu, produk  yang mengandung susu dimana di dalamnya terdapat melamin. Melamin ini biasa digunakan pada pembuatan plastik, pupuk, dan pembersih. Kemudian produk makanan berupa jeruk ditemukan mengandung formalin, dan produk kosmetik juga ditemukan mengandung merkuri atau air raksa sehingga begitu berbahaya bagi tubuh.
Berbagai permasalahan yang terjadi dengan masuknya produk dari China ke Indonesia menggambarkan  pengaruh negatif dari ACFTA terhadap industri dan juga kesehatan masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu masyarakat dan para pengusaha industri tidak setuju atas pelaksanaan ACFTA karena merugikan mereka. Sementara itu pemerintah Republik Indonesia sampai saat ini masih tetap menjalankan ACFTA, karena dianggap akan dapat meningkatkan daya saing Indonesia terhadap barang-barang dari China tersebut.
Ø  Pendapat saya Tentang Persaingan Perdagangan dengan China adalah :
     Produk-produk dari china bisa membuat perekonomian indonesia mengalami penurunan, karena bisa berpotensi mengalami kebangkrutan bagi perusahaan dalam negri.
     Bangkrutnya perusahan tersebut disebabkan karena ketidaksiapan para pelaku bisnis Indonesia, terutama bisnis menengah dan kecil dalam bersaing. Pemikiran tersebut didasarkan pada kondisi yang terjadi saat ini, dimana berbagai produk dari China telah membanjiri pasar Indonesia. Produk dari China yang masuk ke Indonesia sangat bervariasi dan memiliki harga yang murah
Ø  Sikap mengenai Persaingan Perdagangam Bebas dengan China :
    Pemerintah perlu mensosialisasikan cinta produk dalam negri kepada masyarakatnya karena produk yang di hasilkan dalam negri memiliki kualitas yang tidak kalah sama dengan yang di produksi oleh china jadi semangat cinta produk dalam negri bagi masyarakat kita perlu di bangun kembali
Ø  Antisipasi Terhadap Perdagangan Bebas dengan China :
1.pemerintah seharusnya meyakinkan  bahwa  produk lokal memiliki kualitas yang tak kalah baiknya dari produk china.
2.Jika pemerintah tidak mampu berkompetisi dengan China untuk beberapa sector perdagangan, maka strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengeluarkan kebijakan safeguard yaitu pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP)

B.Jenis-Jenis Produk Dalam Negeri
Berapakah  produk asli Indonesia? Berapa toko pakaian, sepatu, tas, parfum, serta arloji dan aksesori lain yang menjual produk dalam negeri? Berapa restoran yang menyajikan masakan asli atau khas Indonesia?
 Restoran hanya beberapa yang benar-benar menyajikan masakan/makanan khas Indonesia, semisal sate padang, nasi padang, soto ambengan, soto kudus, sop konro, nasi liwet, soto betawi, bakso malang, aneka masakan ala Sunda dan sebagainya. Selebihnya adalah masakan/makanan dari mancanegara.

            Tengok pula kafe! Berapa banyak kafe yang benar-benar berciri Indonesia? Tidak lebih dari separuh. Umumnya, kafe yang hadir adalah  waralaba dari Amerika Serikat, Perancis, Belanda, Hongkong, Singapura, dan Malaysia. Menyedihkan? Ya, memang menyedihkan.  Sebagian di antara masyarakat kita malah lebih akrab  dengan waralaba dari negara mungil seperti Singapura.
Bayangkan, sebagian di antara kita terpesona oleh waralaba yang menawarkan roti bakar  srikaya, teh tarik, dan telur setengah matang. Kita pun pasti bisa membikin yang serupa, tetapi agaknya publik lebih tertarik produk dari negeri jiran. Lalu roti bakar pakai selai, telur setengah matang, di warung-warung STMJ (susu, telur, madu, dan jahe), lewat begitu saja. Padahal tak kalah enak, hanya beda lokasi penyajian.
Ini baru sebagian masalah. Hal yang tidak kalah menariknya adalah kalahnya produsen dalam negeri dengan  produsen luar negeri. Namun, siapa yang bisa geram? Ini bagian dari mekanisme pasar, ini persoalan permintaan dan penawaran.
Sepatu dari Inggris, misalnya, harganya tidak berselisih jauh dengan sepatu dalam negeri. Namun, sepatu itu awet, bisa dipakai bertahun-tahun. Dan, repotnya, banyak yang merasa sepatu seperti itu makin tua makin empuk dan nyaman dikenakan. Tidak heran kalau ia laku keras di pasaran.
Tentu tidak semua sepatu luar negeri yang mahal bermutu baik. Banyak juga yang mutunya amburadul, tetapi itu tadi, banyak yang terpesona pada merek dan harga. Yang mahal bukan main dikategorikan berkualitas tinggi, padahal belum tentu. Sebaliknya, ada banyak merek dalam negeri yang mutunya keren, tetapi pemasarannya kalah telak dengan sepatu luar negeri. Akibatnya, ia tidak bisa berkompetisi ketat dengan sepatu-sepatu merek terkenal dari luar negeri.

            Di arena lain, pakaian, arloji, tas, perhiasan, parfum, dan aneka aksesori juga masih didominasi  produk-produk luar negeri.
Ada juga produk dalam negeri yang mencoba masuk dalam ruang kompetisi bisnis. Ada yang sukses, tetapi ada juga yang belum beruntung. Kita ambil patokan sukses saja. Alangkah baiknya kalau  pengusaha  mengambil teladan dari pengusaha yang sukses tersebut.
Betapa asyiknya kalau  pengusaha nasional berani naik ke panggung persaingan bisnis dengan menawarkan produk berkelas yang diterima publik. Indah nian persaingan itu, dan kita memberi respek kepada  produsen dalam negeri yang berani bertarung dan  memenangi pertarungan bisnis itu.
Persaingan bisnis tidak hanya menekankan pada kualitas produk, penjualan, dan terobosan pemasaran, tetapi juga kecerdasan, percaya diri, dan nyali untuk bersaing di pentas bisnis yang penuh lika-liku.
Pasar, sebagaimana sifatnya, selalu mengapresiasi siapa pun yang bisa meluncurkan produk berkualitas dan dipasarkan dengan cerdas, tahu posisi dan peluang pasar.

C.Bersaing Di Pasar Luar Negri
v  MENGAPA PERUSAHAAN MELAKUKAN EKSPANSI KEDALAM  PASAR  DUNIA??
Alasan mengapa perusahaan melakukan ekspansi kedalam pasar dunia:
Ø  Untuk  memasuki akses terhadap pelanggang-pelanggang baru, dengan alasan bahwa ekspansi ke dalam pasar dunia akan memberi potensi untuk meningkatkan pendapatan, laba dan pertumbuhan  jangka panjang, dan dapat  menjadi perusahaan domestik yang mapan.
Ø  Untuk mencapai biaya rendah dan dan meningkatkan daya saing perusahaan.  Banyak perusahaan melakukan perluasan usaha karena pasar domestik dan industri mereka sudah terbatas, sehingga dengan demikian pada hakekatnya meningkatkan daya saing- perusahaan.
Ø  Untuk mengkapitalisasi kompetensi utamanya. Sebuah perusahaan dapat memperluas kompetensi dan kapabilitasnya untuk posisi memperoleh keuntungan kompetetif dalam pasar luar negeri seperti pada pasar domestik.
Ø  Untuk menyebar atau membagi risiko bisnisnya melalui perluasan pasar yang telah ada.


BAB IV
PENUTUP

A.KESIMPULAN & SARAN
Menurut saya pribadi pedagangan antara Indonesia-China lebih banyak merugikan Indonesia, karena saat produk China masuk ke Indonesia maka hasil penjualan produk Indonesia sendiri mengalami kemerosotan. tidak bisa dipungkiri Produk produk dari China sangat mendominasi ASIA bahkan saat ini Produk dari China mulai memasuki wilayah Eropa.
Saat produk dari China masuk dan produk dari Indonesia tidak laku di pasar Lokal, maka banyak perusahaan yang bangkrut. Ini menyebabkan banyaknya terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang secara otomatis membuat tingkat pengangguran di Indonesia semakin bertambah. Hal-hal semacam ini sangat  berkaitan dengan masalahmasalah yang terjadi di Indonesia seperti kemiskinan dan tingkat Kriminalitas yang sangat marak terjadi di Indonesia.
Menurut saya China sangat pandan membuat produk-produk yang berkualitas rata-rata tetapi berani menjual  dengan harga yang rendah, hal itu tentu saja menarik minat para produen Jika produk China memasuki pasar Indonesia secara benar-benar bebas maka mereka akan menjual produk dengan harga yang minim dengan kualitas yang sama. Hal tersebut membuat produk asli Indonesia memiliki daya jual yang redah.
Indonesia harusnya meningkatkan daya saing dari China, meningkatkan kualitas produk.Juga untuk mendukung Industri Lokal, Pemirintah harus berani membuat kebijakan yang sifatnya melindungi Produkproduk dalam negri. Dari masyarakat Indonesia sendiri pun harus bisa mencintai produk dalam negri. menghargai produk-produk Indonesia agar Produk-produk Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN PENGANGGURAN (Tema 1)


HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN PENGANGGURAN

ABSTRAK
Persoalan kehidupan bangsa yang amat pelik dan mencemaskan pada saat ini adalah semakin membengkaknya jumlah penganggur. Dan data yang ada dapat diketengahkan bahwa jumlah penganggur sejak terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998 mengalami kenaikan secara signifikan.
Masalah pengangguran memang selalu menjadi suatu persoalan yang perlu dipecahkan dalam perekonomian negara Indonesia. Jumlah penduduk yang bertambah semakin besar setiap tahun, membawa akibat bertambahnya jumlah angkatan kerja, dan tentunya akan memberikan makna bahwa jumlah orang yang mencari pekerjaan akan meningkat, seiring dengan itu pengangguran akan juga bertambah.Sejak tahun 1997 sampai tahun 2004 jumlah pengganggur terbuka di Indonesia terus meningkat dan sebesar 4,18 juta jiwa menjadi kurang lebih sebesar 11,35 juta jiwa (Suyanto,Kompas; 2004).
 Jumlah tersebut sebagian besar dialami oleh usia produktif ini berarti bahwa sebagian angkatan kerja usia produktif yang termasuk dalam kelompok angka penganggur terbuka tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Kehidupan mereka menjadi beban bagi orang lain.Oleh sebab itu dapat diduga sementara bahwa produkivitas jumlah angkatan kerja produktif usia kerja saat ini relatif rendah.
Kecemasan sebagai bangsa saat ini sebenarnya tidak saja dipicu oleh pengangguran terbuka, tetapi juga pada jumlah penganggur total yang juga semakin membengkak. Bahkan jumlah penganggur total saat ini telah mencapai kurang lebih 45 juta jiwa. Hal ini dalam jangka panjang akan menjadi benih yang subur terhadap timbulnya berbagai ketidakstabilan sosial dan politik, apabila permasalahannya tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Di saat ini di seluruh dunia, penganggur potensial usia produktif berjumlah kurang lebih 74 juta jiwa. Untuk mengatasi pengangguran dalam jumlah yang besar tentu saja tidaklah mudah. Jika pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 3,3 persen, menurut prediksi Bank Dunia (World Bank, 2003), maka lapangan kerja yang dapat diciptakan hanya berjumlah 1,4 juta.
Hal ini juga mempergunakan asumsi bahwa setiap pertumbuhan ekonomi satu persen akan mampu menambah lapangan kerja bagi 400.000 orang. Padahal, angkatan kerja setiap tahun di Indonesia berjumlah kurang lebih 3 juta jiwa. Ini berarti sejak saat ini angka penganggur akan térus bertambah dengan jumlah paling tidak 1,6 juta orang. Menurut sementara peneliti kependudukan di Indonesia Faisal (2002) Chatib (2004), Mar’ie (2002) menyatakan bahwa penganggur di kalangan kaum terdidik pun juga menunjukkan angka yang cukup tinggi. Sajian data Badan Pusat Statistik pada tahun 2001 memperlihatkan jumlah penganggur yang sudah tamat sekolah dasar sampai perguruan tinggi telah mencapai paling tidak 5,8 juta orang, tentunya apabila ditilik untuk saat ini maka angka yang tersaji akan lebih tinggi lagi.
Meskipun secara absolut penduduk Indonesia masih tetap menunjukkan peningkatan di masa yang akan datang, permasalahan yang tepat terkait di sini adalah besaran angka beban tanggungan (dependency ratio) anaktahun 1990 sebesar 60 persen dan angka beban tanggungan (dependency ratio) lanjut usia tahun 1990 sebesar 6 persen sedang tahun 2001 rasionya berubah menjadi masing-masing adalah 48 persen untuk anak dan 7 persen untuk lanjut usia.
 Ini menunjukkan penduduk usia produktif pada tahun 1990 dan tahun 2001 tergolong dalam kritenia penduduk usia muda cukup besar (World Populatiun Prospect, 2001), dan tentunya akan menjadikan beban tanggungan bagi penduduk lainnya, apabila juga dlkaitkan dengan pendidikan yang dimiliki. Oleh sebab itu, pendidikan memang diharapkan dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas (Daryono. dkk. 2003). Apabila tidak mencerminkan kualitas yang baik maka sektor ini juga akan menyumbangkan proses terjadinya pengangguran.


BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Masalah kependidikan yang serius dihadapi oleh negara berkembang pada umumnya, antara lain berkisar pada masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas, dan lapangan pekerjaan. Membidik masalah yang terakhir, dengan tidak bermaksud mengecilkan arti ketiga masalah lainnya, memiliki greget yang lain. Kekurangtersediaan lapangan pekerjaan akan berimbas pada kemapanan sosial dan eksistensi pendidikan dalam perspektif masyarakat.
Pada masyarakat yang tengah berkembang, pendidikan diposisikan sebagai sarana untuk peningkatan kesejahteraan melalui pemanfatan kesempatan kerja yang ada. Dalam arti lain, tujuan akhir program pendidikan bagi masyarakat pengguna jasa pendidikan, adalah teraihnya lapangan kerja yang diaharpkan. Atau setidak-tidaknya, setelah lulus dapat bekerja di sektor formal yang memiliki nilai "gengsi" yang lebih tinggi di banding sektor informal.
Dengan demikian, keterbatasan lapangan pekerjaan sehingga berpotensi untuk tidak dapat tertampungnya lulusan program pendidikan di lapangan kerja, secara linear berpotensi menggugat eksistensi dan urgensi pendidikan dalam perspektif masyarakat. Masyarakat akan kehilangan kepercayaan secara signifikan terhadap eksistensi lembaga pendidikan.
Lapangan pekerjaan merupakan indikator penting tingkat kesejahteraan masyarakat dan sekaligus menjadi indikator keberhasilan penyelenggaraan "pendidikan". Maka merembaknya isyu pengangguran terdidik menjadi sinyal yang cukup mengganggu bagi perencana pendidikan di negara-negara berkembang pada umumnya, khususnya juga di Indonesia.
Sementara dampak sosial dari jenis pengangguran ini relatif lebih besar. Kelompok ini memiliki "daya gerak" yang cukup besar untuk menciptakan dinamika dalam masyarakat. Mengingat kompleksnya masalah ini, maka upaya pemecahannyapun tidak sebatas pada kebijakan sektor pendidikan saja, namun merembet pada masalah lain secara multi dimensional.
Tulisan ini mencoba memperjelas permasalahan yang ada pada jenis pengangguran ini dan alternatif pemecahan macam apa yang harus dilakukan guna mengatasi masalah pengangguran terdidik ini, dilihat dari perspektif pendidikan. Khususnya dalam konstelasi penyelenggaraan pendidikan di lembaga pendidikan tinggi keguruan (LPTK).
B. RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimanakah Peranan Pendidikan Dalam Mewujudkan Mobilitas Sosial ?
2.    Apa yang di maksud dengan pengangguran terdidik ?
3.    Apa sebab-sebab sarjana menganggur ?


BAB II
LANDASAN TEORI
            Sebelum kita membahas mengenai permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia, sebaiknya kita melihat definisi dari pendidikan itu sendiri terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.
            Ki Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia, peletak dasar yang kuat pendidkan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut :
            Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14)
Dari etimologi dan analisis pengertian pendidikan di atas, secara singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya.

            Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, tidak berhenti. Di dalam proses pendidikan ini, keluhuran martabat manusia dipegang erat karena manusia (yang terlibat dalam pendidikan ini) adalah subyek daripendidikan. Karena merupakan subyek di dalam pendidikan, maka dituntut suatu tanggung jawab agar tercapai suatu hasil pendidikan yang baik. Jika memperhatikan bahwa manusia itu sebagai subyek dan pendidikanmeletakkan hakikat manusia pada hal yang terpenting, maka perlu diperhatikan juga masalah otonomi pribadi. Maksudnya adalah, manusia sebagai subyek pendidikan harus bebas untuk “ada” sebagai dirinya yaitu manusia yang berpribadi, yang bertanggung jawab.
            Hasil dari pendidikan tersebut yang jelas adalah adanya perubahan pada subyek-subyek pendidikan itu sendiri. Katakanlah dengan bahasa yang sederhana demikian, ada perubahan dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tetapi perubahan-perubahan yang terjadi setelah proses pendidikan itu tentu saja tidak sesempit itu. Karena perubahan-perubahan itu menyangkut aspek perkembangan jasmani dan rohani juga.
            Melalui pendidikan manusia menyadari hakikat dan martabatnya di dalam relasinya yang tak terpisahkan dengan alam lingkungannya dan sesamanya. Itu berarti, pendidikan sebenarnya mengarahkan manusia menjadi insan yang sadar diri dan sadar lingkungan. Dari kesadarannya itu mampu memperbarui diri dan lingkungannya tanpa kehilangan kepribadian dan tidak tercerabut dari akar tradisinya.


BAB III
PEMBAHASAN
A.Peranan Pendidikan Dalam Mewujudkan Mobilitas Sosial
Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pendidikan mampu meningkatkan status sosial seseorang. Hal ini karena pendidikan itu sendiri mempunyai peran yang penting bagi diri sendiri maupun masyarakat setempat. Hal tersebut bisa dilihat  mulai dengan menilik fungsi-fungsi pendirian lembaga pendidikan.
Rafil Karsidi dalam salah satu tulisannya menyebutkan berbagai fungsi lembaga pendidikan yang dikaitkan dengan realitasnya. Fungsi-fungsi tersebut secara ringkasnya adalah sebagai berikut:
·         Lembaga pendidikan mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.
Jika proses perjalanan pendidikan sepanjang masa ditinjau secara menyeluruh, maka dapat dilihat kenyataan bahwa kemajuan dalam pendidikan beriringan dengan kemajuan ekonomi secara bersamaan. Peserta didik yang menamatkan sekolah diharapkan sanggup melakukan pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dunia pekerjaan. Semakin tinggi pendidikannya, maka semakin besar kesempatannya untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
·         Sebagai alat transmisi kebudayaan
Fungsi transmisi kebudayaan masyarakat kepada peserta didik menurut Vembrianto (1990) dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) transmisi pengetahuan dan keterampilan; dan (2) transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma. Transmisi pengetahuan  mencakup pengetahuan tentang bahasa, sistem matematika, pengetahuan alam dan sosial serta penemuan-penemuan teknologi. Dari segi transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma masing-masing lembaga dalam konteks karakter sosiokultural juga tidak bisa dipungkiri peran dan fungsinya. Di lembaga pendidikan, peserta didik tidak hanya mempelajari pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap, nilai-nilai dan norma-norma.
·         Mengajarkan peranan sosial
Pendidikan diharapkan membentuk manusia sosial yang dapat bergaul dengan sesama manusia sekalipun berbeda agama, suku bangsa, pendirian dan sebagainya. Ia juga harus dapat menyesuaikan diri dalam situasi sosial yang berbeda-beda. Lebih dari itu, peserta didik diharapkan mampu dan memiliki peranan yang baik dengan memberikan sumbangsihnya atas berbagai permasalahan sosial di sekitarnya.
·         Membuka kesempatan memperbaiki nasib
Semenjak diterapkannya sistem pendidikan yang bisa dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh penjuru tanah air maka secara otomatis telah mendobrak tembok ketimpangan sosial masyarakat feodal dan menggantinya dengan bentuk mobilitas terbuka. Sekolah menjadi tempat yang paling strategis untuk menyalurkan kebutuhan mobilitas vertikal dalam kerangka stratifikasi sosial masyarakat.
·         Menyediakan tenaga pembangunan
Bagi negara-negara berkembang, pendidikan dipandang menjadi alat yang paling ampuh untuk menyiapkan tenaga produktif guna menopang proses pembangunan. Kekayaan alam hanya mengandung arti bila didukung oleh keahlian. Maka karena itu manusia merupakan sumber utama bagi negara.
·         Menciptakan integrasi sosial
Dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan pluralistik, terjaminnya integrasi sosial merupakan fungsi pendidikan sekolah yang cukup penting. Masyarakat Indonesia mengenal bermacammacam suku bangsa masing-masing dengan adat istiadatnya sendiri, bermacam-macam bahasa daerah, agama, pandangan politik dan lain sebagainya. Dalam keadaan demikian bahaya disintegrasi sosial sangat besar. Oleh karena itu, tugas pendidikan di lembaga pendidikan yang terpenting adalah menjamin integrasi sosial. Upaya yang telah dilakukan untuk itu misalnya dengan mengajarkan bahasa nasional, mengajarkan pengalaman-pengalaman yang sama melalui keseragaman kurikulum dan buku-buku pelajaran.
·         Kontrol sosial
Ketika permasalahan sosial begitu kompleks dan rumitnya, seperti soal kemiskinan, pengangguran, dan kekerasan, di sinilah pendidikan memiliki peran fungsionalnya sebagai kontrol atau stabilisator agar permasalahan tersebut tidak berlarut-larut atau meminimalisir agar efeknya tidak meluas.Karena fungsi-fungsi tersebut, maka pendidikan dipercaya masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan hidup.



B. Pengangguran Terdidik
Pengangguran Terdidik adalah seseorang yang telah lulus dari perguruan tinggi negeri atau swasta dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.
Berdasarkan data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2012, TPT untuk tingkat diploma 7,5 persen dan sarjana 6,95 persen. Jumlah pengangguran secara nasional pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang, dengan TPT sebesar 6.32 persen. kemungkinan sarjana menganggur setiap tahun akan mengalami peningkatan yang signifikan.
Pendidikan yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang seperti yang telah diuraikan di atas ternyata tidak dijamin kebenarannya jika dilihat dalam realitas kehidupan. Anggapan orang bahwa pendidikan dapat mengangkat status atau derajat seseorang perlu untuk ditinjau kembali. Hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya pengangguran di kalangan terdidik. Pertanyaannya, mengapa demikian?
Sebab-sebab sarjana menganggur
Terjadinya kasus pengangguran terdidik dikarenakan oleh beberapa faktor. Di antaranya sebagai berikut:
Ø  Tidak sungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu, artinya orientasi utama mengapa seseorang menempuh pendidikan hingga tingkat tinggi adalah untuk tujuan tertentu saja misalnya hanya demi mendapatkan ijazah.
Ø  Kurang selarasnya perencanaan pembangunan pendidikan dan berkembangnya lapangan kerja yang tidak sesuai denagn jurusan mereka, sehingga para lulusan yang berasal dari jenjang pendidikan atas baik umum maupun kejuruan dan tinggi tersebut tidak dapat terserap ke dalam lapangan pekerjaan yang ada.
Ø  Budaya malas disinyalir sebagai penyebab tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia. Para pengangguran terdidik lebih memilih pekerjaan yang formal dan mereka ingin langsung bekerja di tempat yang menempatkan mereka di posisi yang enak, mendapat banyak fasilitas, dan mendapat gaji yang cukup, tidak mau memulai karier dari bawah.
 Kompetisi yang kurang
Faktor penyebab pengangguran juga sering kali diciptakan oleh diri seseorang secara sengaja atau tidak. Lingkungan memegang peranan yang penting dalam pembentukan pribadi yang kuat dan bisa bersaing. Lingkungan juga menjadi hal yang membuat banyak pribadi menjadi lemah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan hidup. Jika lingkungan membentuk seseorang berkompetensi tinggi, maka ia akan terbiasa bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik. Sebaliknya, lingkungan yang didominasi oleh orang-orang yang berpikiran mudah menyerah dan tidak senang bekerja keras, maka pribadi yang dilahirkan dari lingkungan yang seperti ini adalah orang-orang yang mudah menyerah.
Rendahnya keterampilan yang dimiliki seseorang
Sekalipun seseorang telah menempuh pendidikan yang tinggi dengan nilai yang tinggi, dia tidak akan dapat eksis jika keterampilan yang dimilki rendah. Keterampilan juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan, entah itu keterampilan dalam bidang pekerjaan maupun keterampilan sosial.
Pemecahan masalah
Perlu adanya revolusi dalam penanganan masalah pengangguran, Mengingat penyelesaian konvensional selama ini tidak memberikan perubahan yang signifikan.
Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seluruh stackholder utamanya pemerintah, pihak universitas dan pengusaha termasuk peserta didik (mahasiswa) itu sendiri, di antaranya sebagai berikut:
Ø  Melakukan pemetaan antara dunia pendidikan di kampus melalui program-program studi yang ada dengan prediksi kebutuhan tenaga kerja di lapangan.
Ø  Perlu adanya pengembangan berbagai softskill yang diberikan kepada para mahasiswa. Softskill yang diberikan haruslah berdasarkan atas kebutuhan masyarakat kontemporer.
Ø  Perlu adanya kemauan dan motivasi pada diri sendiri untuk berusaha lebih maju.
Ø  Menumbuhkan semangat berwirausaha. Para sarjana tidak hanya  melamar pekerjaan namun dituntut mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan masyarakat disekitarnya. Seorang sarjana dengan kompetensi yang dimiliki dan atmosfer yang ada menjadikan mereka ready to survive (sanggup untuk hidup).
Ø  Mengembangkan keterampilan sosial.
Itulah beberapa upaya yang menurut penulis dapat membantu mengurangi angka pengangguran terdidik. Upaya-upaya tersebut harus menjadi perhatian setiap masyarakat, terutama peserta didik, termasuk juga pemerintah.


BAB IV
PENUTUP

A.KESIMPULAN & SARAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan hubungan pendidikan dan mobilitas sosial termassuk kasus yang terjadi terkait dengan pengangguran terdidik, di antaranya sebagai berikut:
Pendidikan dipercaya dapat mengangkat derajat atau status sosial seseorang. Hal tersebut dikarenakan pendidikan itu sendiri mempunyai peran yang penting bagi diri sendiri maupun masyarakat setempat.
Rafil Karsidi menyebutkan berbagai fungsi lembaga pendidikan, yakni: lembaga pendidikan mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan, sebagai alat transmisi kebudayaan, mengajarkan peranan sosial, membuka kesempatan memperbaiki nasib, menyediakan tenaga pembangunan, menciptakan integrasi sosial, dan kontrol sosial.
Data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2012, TPT untuk tingkat diploma 7,5 persen dan sarjana 6,95 persen. Jumlah pengangguran secara nasional pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang, dengan TPT sebesar 6.32 persen. kemungkinan sarjana menganggur setiap tahun akan mengalami peningkatan yang signifikan.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran di kalangan pendidik adalah: tidak sungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu, kurang selarasnya perencanaan pembangunan pendidikan dan berkembangnya lapangan kerja yang tidak sesuai, malas, kompetisi yang kurang, dan rendahnya keterampilan yang dimiliki seseorang.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pengangguran terdidik di antaranya adalah: melakukan pemetaan antara dunia pendidikan di kampus melalui program-program studi yang ada dengan prediksi kebutuhan tenaga kerja di lapangan, perlu adanya pengembangan berbagai softskill yang diberikan kepada para mahasiswa, perlu adanya kemauan dan motivasi, menumbuhkan semangat berwirausaha, dan mengembangkan keterampilan sosial.

DAFTAR PUSTAKA
·         Nazili Shaleh Ahmad, Pendidikan dan Masyarakat, (Yogyakarta: Sabda Media, 2011), hal. 31.
·         Muhammad Rifa’i, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal.170



Kamis, 11 April 2013

TOKO SEMBAKO


Kelompok kami memilih salah satu usaha manufaktur yaitu sebuah usaha warumg yang menjual sembako,dll yang berada di Bekasi

·         Yang berpengaruh pada usaha ini :
1.     Kondisi tempat usaha strategis sehingga menarik para pembeli
2.    Harga yang tidak terlalu tinggi sehingga banyak pelanggan yang datang kembali
3.    Lengkapnya barang-barang yang di butuhkan konsumen sehingga konsumen tidak kecewasaat barang yang dicari tidak ada
4.    Pelayanan penjual yang ramah dan sopan kepada konsumen agar konsumen tidak merasa kecewa atas sikam penjual
5.    Adanya pesaing yang berjualan sama dengan bidang yang kita jual dan pesaingnya berjualan dekat dengan usaha kita ,jadi ada kemungkinan pelanggan kita bisa pindah berbelanja kesana jika barang yang ia butuhkan tidak ada


·         Yang tidak berpengaruh pada usaha ini :
1.     Jika tujuan tidak menjadi hambatan untuk konsumen untuk membeli barang yang ia butuhkan
2.    Saat harga kebutuhan pokok naik seperti beras, minyak, telur dll itu tidak menjadi hambatan para konsumen karena itu adalah kebutuhan pokok sehari-hari
3.    Jika listrik mati pun tidak menjadi hambatan untuk penjual dan konsumen juga karena setiap orang pasti punya kebutuhan yang akan di beli
4.    Meskipun harga barang yang di jual tidak terlalu mahal itu tidak berpengaruh karena meskipun keuntungan yang kita ambil hanya sedikit tapi mendatangkan banyak pelanggan

·         Kekuatan yang ada pada tempat usaha tersebut :
1.     Menjual ide-ide baru dan pasti akan laku
2.    Harganya terjangkau dari warung lain
3.    Pelayanan yang ramah dan sopan kepada konsumen
4.    Memberikan potongan harga jika membeli banyak
5.    Terdapat delivery order sehingga konsumen tidak terlalu repot berjalan jauh

·         Kelemahan yang ada pada tempat usaha tersebut :
1.     Tidak memiliki stok barang yang banyak
2.    Banyak konsumen yang mengutang dan dibayar jika akhir bulan atau setelah mereka mendapatkan gaji
3.    Tempatnya kurang strategis karena warung tersebut menyatu dengan rumah , sehingga banyak orang yang keluar masuk lewat warung
4.    Kurang nya karyawan sehingga kalau rame terkadang menjadi tidak terkendali atau tidak bisa melayani sendiri
5.    Lingkungan sekitar warung terkadang mengalami banjir sehingga konsumen malas untuk ke warung dan akibatnya warung menjadi sepi

STRUKTUR PRODUKSI , DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN

STRUKTUR PRODUKSI, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN

A. Struktur Produksi
Struktur produksi adalah logika proses produksi, yang menyatakan hubungan antara beberapa pekerjaan pembuatan komponen sampai menjadi produk akhir, yang biasanya ditunjukkan dengan menggunakan skema. Struktur produksi nasional dapat dilihat menurut lapangan usaha dan hasil produksi kegiatan ekonomi nasional. Berdasarkan lapangan usaha struktur produksi nasional terdiri dari sebelas lapangan usaha dan berdasarkan hasil produksi nasional terdiri dari 3 sektor, yakni sektor primer, sekunder, dan tersier.
Sejalan dengan perkembangan pembangunan ekonomi struktur produksi suatu perekonomian cenderung mengalami perubahan dari dominasi sektor primer menuju dominasi sektor sekunder dan tersier. Perubahan struktur produksi dapat terjadi karena :
Sifat manusia dalam perilaku konsumsinya yang cenderung berubah dari konsumsi barang barang pertanian menuju konsumsi lebih banyak barang-barang industri
Perubahan teknologi yang terus-menerus, dan
Semakin meningkatnya keuntungan komparatif dalam memproduksi barang-barang industri.
Struktur produksi nasional pada awal tahun pembangunan jangka panjang ditandai oleh peranan sektor primer, tersier, dan industri. Sejalan dengan semakin meningkatnya proses pembangunan ekonomi maka pada akhir Pelita V atau kedua, struktur produksi nasional telah bergeser dari dominasi sektor primer menuju sektor sekunder.
Manfaat GDB :
1)      Dapat mengetahui dengan segera apakah perekonomian mengalami pertumbuhan atau tidak.
2)      Menghitung perubahan harga.
      Keterbatasan GDB  :
1)      Perhitungan GDB dan analisis kemakmuran.
2)      Perhitungan dan masalah kesejahteraan.
3)      GDB perkapita dan masalah produksi.
 
B. Pendapatan Nasional

            Salah satu indikator terpenting dalam perekonomian suatu negara yaituPendapatan Nasional. Pendapatan Nasional yaitu jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode, biasanya selama satu tahun.
Pendekatan Nasional sering dipergunakan sebagai indikator ekonomi dalam hal :
1. Menentukan laju tingkat pertumbuhan perekonomian suatu Negara
2. Mengukur keberhasilan suatu Negara dalam mencapai tujuan pembangunan ekonominya
3. Membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu Negara dengan Negara lainnya.
Konsep Perhitungan
Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional :
Produk Domestik Bruto (GDP)
Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.
GNP – n = GNP atau GNP + n = GDP

Produk Nasional Bruto (GNP)
Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.
NI = C+G+I+(X-M)
Produk Nasional Neto (NNP)
Produk Nasional Neto (Net National Product) adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan barang modal (sering pula disebut replacement). Replacementpenggantian barang modal/penyusutan bagi peralatan produski yang dipakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.
NNP = GNP – Depresiasi
Pendapatan Nasional Neto (NNI)
Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.
NNI = NNP – Pajak Langsung
Pendapatan Perseorangan (PI)
Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).
PI = NNI – Laba ditahan – Pembayaran asuransi + Pendapatan bunga personal + Penerimaan Bukan balas jasa.
Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)
Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.

C.Distribusi Pendapatan Nasional&Kemiskinan
Pendapatan Nasional dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan Pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada 
perusahaan.
Y = r + w + i + p
2. Pendekatan Produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industriagrarisekstraktifjasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilaijasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).
Y = [(Q1 x P1) + (Q2 x P2) + (Qn x Pn) ......]
3. Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor.
Y = C + I + G + (X-M)
Pendapatan Nasioanal per kapita
Pendapatan per kapita (per capita income) adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu, yang biasanya satu tahun. Biasanya digunakan sebagai salah satu indikator akhir dalam melihat kemajuan pertumbuhan perekonomian suatu negara. Pendapatan per kapita ini diperoleh dengan membagi pendapatan nasioanal (GNP atau GDP) dengan jumlah penduduk di suatu negara (Indonesia).

Kemiskinan
Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) merupakan dus masalah besar di banyak negara berkembang, tidak terkecuali Indanesia.
Akan tetapi, sejarah menunjukkan bahwa setelah 10 tahun berlalu pada tahun 1969, ternyata efek yang dimaksud itu mungkin tidak tepat untuk dikatakan sama sekali tidak ada, tetapi proses mengalir ke bawahnya sangat lambat. Akhirnya, sebagai akibat dari stategi tersebut, pada dekade 1980-an hingga pertengahan dekade 1990-an, sebelum krisis ekonomi, Indonesia memang menikmati laju pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto yang relatif tinggi, tetapi tingkat kesenjangan juga semakin besar dan jumlah orang miskin tetap banyak.
Sebenarnya, menjelang akhir dekade 1970-an pemerintah sudah mulai menyadari keadan tersebut yang menunjukan buruknya kualitas pembangunan yang telah dilakukan hingga saat itu. Oleh karena itu, strategi pembangunan mulai diubah, tidak hanya pertumbuhan tetapi juga kesejahteraan masyarakat, juga menjadi sasaran utama dari pembangunan. Perhatian mulai diberikan pada usaha–usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan mengembangkan industri–industri yang padat karya dan sektor pertanian. Banyak program yang dilakukan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi (kalau tidak bisa menghilangkan) jumlah orang miskin dan perbedaan pendapatan antara kelompok miskin dan kelompok kaya di tanah air, misalnya inpres desa tertinggal (IDT), pengembangan industri kecil dan rumah tangga, khususnya di daerah pedesaan, transmigrasi, dan
masih banyak lagi.
Krisis ini yang akhirnya menciptakan suatu resesi ekonomi yang besar dengan sendirinya memperbesar tinggat kemiskinan dan gap dalam distribusi pendapatan di tanah air, bahkan menjadi jauh lebih parah dengan kondisi pada dekade 1980-an.
Ukuran Kemiskinan
Ada dua macam ukuran kemiskinan yang umum dan dikenal antara lain :
1. Kemiskinan Absolut
Konsep kemiskinan pada umumnya selalu dikaitkan dengan pendapatan dan kebutuhan, kebutuhan tersebut hanya terbatas pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar (basic need).
Kemiskinan dapat digolongkan dua bagian yaitu :
a. Kemiskinan untuk memenuhi bebutuhan dasar.
b. Kemiskinan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.
2. Kemiskinan Relatif
Menurut Kincaid (1975) semakin besar ketimpang antara tingkat hidup orang kaya dan miskin maka semakin besar jumlah penduduk yang selalu miskin.
Sehingga Bank Dunia (World Bank) membagi aspek tersebut dalam tiga bagian antara lain :
1. Jika 40% jumlah penduduk berpendapat rendah menerima kurang dari 12% pendapatan nasionalnya maka pembagian pembangunan sangat timpang.
2. Apabila 40% lapisan penduduk berpendapatan rendah menikmati antara 12-17% pendapatan nasional dianggap sedang
3. Jika 40% dari penduduk berpendapatan menengahmenikmati lebih dari 17% pendapatan nasioanal maka dianggap rendah.

 Strategi / Kebijakan Dalam Mengurangi Kemiskinan
Pembangunan Sektor Petanian
Sektor pertanian memiliki peranan penting di dalam pembangunan karena sector tersebut memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pendapatan masayrakat di pedesaan berarti akan mengurangi jumlah masyarakat miskin. Terutama sekali teknologi disektor pertanian dan infrastruktur.
Pembangunan Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia merupakan investasi insani yang memerlukan biaya yang cukup besar, diperlukan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyrakat secara umum, maka dari itu peningkatan lembaga pendidikan, kesehatan dan gizi merupakan langka yang baik untuk diterapkan oleh pemerintah.
Peranan Lembaga Swadaya Masyarakat
Mengingat LSM memiliki fleksibilitas yang baik dilingkungan masyarakat sehingga mampu memahami komunitas masyarakat dalam menerapkan rancangan dan program pengentasan kemiskinan.